AKU
DAN SENJA
Senja, di antara beberapa santapan
berita, aku lebih memilih memandangmu tenggelam. Internet sebagai medi
informasi, seringnya aku gunakan untuk baca-baca berita, artikel menarik,
beberapa media sosial, konten senonoh sampai update nomer togel hahaa,,,. Semua
itu aku sering browsing di sela-sela kegiatan rutin kuliah maupun di organisasi
ekstra kampus.
Sore hari, menjelang terbenamnya
matahari seperti saat inilah aku sering nongkrong di gazebo belakang dekanat
Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo. Di situ pemandanganya mateb, indah sekali,
bisa melihat senja, beberapa perumahan warga, kawasan industry Semarang sampai
laut yang elok. Memang ketika sore hari di sepanjang jalan menuju kampus tiga
UIN Walisongo jika dari kampus dua menjadi tempat nongkrong beberapa mahasiswa
bahkan banyak mahasiswa luar kampus yang menyempatkan menikmati sore disitu,
tak hanya mahasiswa masyarakat umum juga ada.
Kenapa aku lebih memilih di
belakang dekanat? Kog tidak di juras? karna di situ tersambung wi-fi dari kantor
dekanat, jadi bisa melihat pemandangan yang indah, rokokan sambil menikmati
fasilitas kampus rasanya bisa mengurangi beban hidup. Bicara soal berselancar
di dunia maya, konten yang pertama kali saya buka pasti facebook, entah kenapa
media sosial yang satu ini tak dapat tergantikan dari yang lain. Selain
facebook biyasanya menilik twitter sebentar.
Senja dan berjuta harapan,,,,,,,!
Seperti di film titanic yang
tokohnya merasakan kencangnya angin di ujung depan kapal, atau sperti film 5cm
yang menikmati angin sambil memandang indahnya persawahan, aku di sini terkadang juga sesekali
merebahkan tangan, menghirup udara sedalam-dalamnya lalu melepaskan pelan-pelan
sembari menatap laut yang menggambarkan bentuk bulat dunia. Di situ, saat
merebahkan tangan rasanya timbul semangat untuk menaklukkan dunia, mengejar
cita-cita dan membahagiakan orang tua. Di situ juga tempat melepas beban,
melepas semua kenangan buruk di kampus.
Ceroboh,,,,,,sebelum tulisan ini
saya lanjutkan, aku sedikit kesal karna beberapa paragraph yang telah aku tulis
hilang lantaran saat aku mengangkat netbookternyata batrenya menyangkut karpet
dan mati. Haduh,,,,, nyesel aku, padehal aku sudah menulis beberapa harapan .
tapi tak apalah semoga itu menjadi penyemangatku untuk tetap menulis. Karna
mengutip Pram “menulis adalah bekerja untuk keabadian”, dari omonganya pram
tersebut aku ingin punya sebuah karya yang bermanfaat dan menginspiirasi banyak
manusia terkhusus menginspirasi masyarakat Indonesia agar tidak kalah dengan
bangsa lain. Aku ingin mengatakan kalau aku sangat cinta Indonesia.
Mulai ku tulis lagi, harapan,,,,,,!
Senja dating lagi
Kali ini, harapan jangka pendek
yang dating, setelah seharian belum minum dan makan, kali ini seperti puasa
saja. Harapan sederhana itu makan dan minum air putih dingin. Tadi pagi hhanya
memakan setengah buah pir yang terletak di meja netbook ku saat ku tinggal ke
kamar mandi. Aku tak tau siapa yang menaruhnya, semoga tuhan membalas kebaikan
itu.
Harapan sederhana itu menambah
semangatku untuk memikirkan segalanya, ingin aku menguak tentang riziki. Kenapa
dengan rizki? Kemana larinya rizkiku? Untuk makan kali ini saja belum ada. Oh
kenapa ini? Nasibkah, karana ekonomi Negara sedang terpurukkah. Harapan untuk
hidupku sepertinya rendah. Kalau dalam keadaan seperti ini aku teringat sang
demonstran yang namanya di kenang yaiti Soe Hok Gie.
Seperti Gie, akupun ingin
melepaskan penatku di gunung. Tapi gunung saat ini telah ramai, untuk mencari
ketenangan harus cari gunung yang masih sepi. Hari demi hari tak bisa lepas
dari informasi, tapi semua bikin muak saja. Aku ingin kembali ke masa kecil
dimana tak ada bahan fikiran yang aku cerna, yang ada hanya dunia main. Tapi
aku sadar, aku adalah mahasiswa bahkan ada yang menyebutnya aktivis. Julukan
itu sungguh aku harus berada dalam beberapa informasi meski semua itu aku
anggap hoak dan hanya bikin sampah menumpuk di otak saja.






0 komentar:
Posting Komentar