Seperti anak Jakarta aku mau ganti
gaya, LO GUE, LO GUE.
Untung
gue masih hidup, disini gak ada makanan gak adaminuman apalagi uang? Dari pagi
sampai pagi lagi yang ada hanya mantengin netbook sama hape. Makan hari kemaren
minta temen yang kebetulan banyak makanan. Hari ini aku tak tau mau makan dan
minum apa, tapi aku masih yakin pada tuhan yang kuasa. Allah maha kaya, maha
member makan hambanya apalagi hambanya yang seperti saya. Walaupun gak bisa
sholat lima waktu aku adalah pecinta ilmu pengetahuan untuk membuka tabir
kekuasaan tuhan. Penuntut ilmu itu lebih tinggi tingkatanya dari ahli ibadah,
meski dalamku menuntut ilmu juga agak malasa-malasan sih, heheh. Gue gitu
lhooooo,,,,,,,,hops!
Ilmu, bicara tentang ilmu aku teringat masa kecil.
Ternyata masa kecilku penuh dengan kebohongan. Kalo boleh bicara, gue mau
cerita tentang paradigma masa kecilku. Bolehkan? Nah ceritanya gini. Gue di
waktu kecil sukanya nonton film kartun. Film maklampir, angkling darmo, dan
film yang mengubah pola pandang gue, filem tersebut berpengaruh banget lho.
Akibat dari filem tersebut gua
menganggap ilmu itru hanya seperti ilmunya maklampir atau ilmunya saras 008, bukankah itu lucu? Gua
mengejar-ngejar ilmu yang kayak begitu tu,,,,waktu kecil.
Karna paradigma mengenai ilmu gue
yang salah akibatnya gue males belajar matematika, fisika, ipa, kalo ips masih
mending karna terdapat sejarah para founding father. Ips gua sedikit tertarik,
meski memaknai ilmu gua salah tapi nasionalisme gua sudah muncul sejak dalam
kandungan. Jadi setelah lahir langsung suka pelajaran IPS, hahaha. Walaupun
suka nilaiku tetep saja gak bisa sepuluh
brooooo karna gua gak sombong. Kalo aku tau jawabanya pada waktu menggarap soal
sering aku jawab “gua gak sombong bu, kalau mau nanya langsung bicara saja.
Nanti saya jawab, tapi kalau pakai soal beginian gua ogah, okeyyyy..”. itu jawaban gua di lembar jawaban.
Masih
bicara tentang ilmu, apa sih ilmu itu? Kalo seingat saya dulu aku pernah ingin
punya ilmu rekah gunung nya Sudawirat, salah satu tokoh film terdahulu. Gua juga ingin bisa terbang seperti film
ultraman, dan kawan-kawann. Bicara tentang ilmu itu gak ada habisnya, bukankah
kita di tuntut untuk mencari ilmu dari lahir sampai ke liang lahat? Nah gak ada
salahnya jika gua ngejar ilmu pengen bisa terbang, gak salahkan?. Ok. Setelah
gua besar dan sadar, gua lebih memakai rasio gua bahkan ada yang mengatakan
rasio gua terlalu tinggi atau sering saya mengedepankan rasio ketimbang hati.
Nah ini juga tidak betul seratus persen,
sebenarnya naluri dan hati gua tu kuat banget broooo, buktina gua berada
di kota Semarang sekarang. Kalo di piker dengan rasio kan gak bakalan aku bisa
kuliyah dengan biaya orang tua, tapi nyatanya bisa, ituuu kawan. Kembali ke
ilmu, inget juga dengan doraemon dengan kota ajaibnya, pengen banget punya.
Jika
gua punya kotak ajaib kan lumayan, bisa memperbaiki negeri ini. Akan aku hapus
fikiran mengenai korupsi dari otak generasi muda Indonesia agar ke depan tak
ada lagi yang namanya korupsi. Gua akan membangun alun-alun dan taman bermain
di setiap desa. Agar anak-anak bisa bermain ria di taman. Kagak usah pergi ke
wisata yang menghambur-hamburkan uang.. ide cerdas gak tu? Setiap desa punya
alun-alun dan taman. Aku juga pengen setiap desa punya pendidikan mulai dari
pendidikan kanak-kanak sampai perguruan tinggi.. nah kamu piker pasti gak
rasional, tapi aku punya alas an
tersendiri. Miukirmu pasti, mau ambil murid dari mana? Aku membayangkan akalo
di desa ada satu professor satu yang sungguhan di pasrahi untuk mengembangkan
desa itu sudah cukup untuk mendidik generasi muda. Konsepnya satu gedung mulai
dari tk sampai perguruan tinggi. Nanti yang kecil bisa bertanya ke yang sudah
di atsnya. Aku ingin membangun pendidikan seperti pesantren tapi di formalkan
agar bisa menyerap anggaran Negara dengan benar. Biar anggaran Negara tidak di
korupsi oleh si pejabat. Setelah itu, murid yang lulus dari perguruan tinggi
tersebnu akan di suruh untuk mengembangkan dan memajukan desanya sendiri. Maka
selesailah program pendidikan di Indonesia, semua desa punya tokoh dan kiayi
sendiri-sendiri, pendistribusian ekonomi jelas merata, sekolah geratis sampai
perguruan tinggi. Kurikulumnya menyesuaikan keinginan peserta didik.
Profesornya hatrus bisa mendidik dengan baik.
Sarana di kembangkan dengan tehnologiu tinggi, memakai biaya
desa yang sudah banya di geklontorkan oleh pemerintah. Nah itulah dulu, aku gak
mau menghayal terlalu tinggi. Nanti saja, semoga tuhan mengabulkan itikat baik
gua, ok bro. amiiin gitu lho.






0 komentar:
Posting Komentar