Budi yang baru bangun, bersantai di depan rumah
sambil menikmati rokoknya
"kadang
pengen juga seperti anak yang berdandan rapi, rambut klimis menuju ke kampus
dengan semangat"
lamunanya
Budi berdialektika dengan dirinya sendiri
"apa sih
yang di tuju, yang di inginkan anak sedisiplin ke kampus seperti itu?"
dijawab
sendiri
"ah, gak penting juga ngurusin orang lain"
"memang,
disiplin adalah salah satu jalan menuju sukses. Kata banyak orang"
"tapi,
jika masuk kelas hanya untuk mengisi absen, agar
nilainya tinggi. Terus buat apa? Nilai yang tinggi itu, jika tidak sepenuhnya
paham akan materi pelajaran. Di kelas hanya mendengarkan orang khutbah"
"oh iya, lagi-lagi nilai yang tinggi itu
menjadi faktor penentu sebagai anak yang di cap pintar, jika itu benar lantas
apakah semua anak yang tidak mendapatkan nilai tinggi tidak pintar? Atau bahkan
bodoh?”
"ah, itu juga tak
penting"
"ada anak yang sibuk di luar, dia juga
tetep belajar. Dia yang di dalam juga belajar. Itu kan tergantung dari
pilihanya masing-masing"
"iya. Semua itu kan memang realita. Ada
ya sibu di dalam, hanya kampus kos- kampus kos tapi pemikiranya melebihi anak
yang riwa-riwi, seminar sana-sini, pelatihan tak pernah henti. Tapi juga ada
yang riwa-riwi pengalamanya melebihi anak yang sekedar pintar teori"
"iya, itu
cuma"
"terus buat apa ini?"
"jelas tidak buat apa-apa, kalian salah
jika mengartikan terlalu dalam, karna ini hanya sampah".
Jangan di cerna.







0 komentar:
Posting Komentar