Selasa, 03 November 2015

Prasangka Budi





Budi yang baru bangun, bersantai di depan rumah sambil menikmati rokoknya
 "kadang pengen juga seperti anak yang berdandan rapi, rambut klimis menuju ke kampus dengan semangat"
lamunanya
Budi berdialektika dengan dirinya sendiri
 "apa sih yang di tuju, yang di inginkan anak sedisiplin ke kampus seperti itu?"
 dijawab sendiri
"ah, gak penting juga ngurusin orang lain"
 "memang, disiplin adalah salah satu jalan menuju sukses. Kata banyak orang"
 "tapi, jika masuk kelas hanya untuk mengisi absen, agar nilainya tinggi. Terus buat apa? Nilai yang tinggi itu, jika tidak sepenuhnya paham akan materi pelajaran. Di kelas hanya mendengarkan orang khutbah"
 "oh iya, lagi-lagi nilai yang tinggi itu menjadi faktor penentu sebagai anak yang di cap pintar, jika itu benar lantas apakah semua anak yang tidak mendapatkan nilai tinggi tidak pintar? Atau bahkan bodoh?”
"ah, itu juga tak penting"
 "ada anak yang sibuk di luar, dia juga tetep belajar. Dia yang di dalam juga belajar. Itu kan tergantung dari pilihanya masing-masing"
 "iya. Semua itu kan memang realita. Ada ya sibu di dalam, hanya kampus kos- kampus kos tapi pemikiranya melebihi anak yang riwa-riwi, seminar sana-sini, pelatihan tak pernah henti. Tapi juga ada yang riwa-riwi pengalamanya melebihi anak yang sekedar pintar teori"
"iya, itu cuma"
 "terus buat apa ini?"
 "jelas tidak buat apa-apa, kalian salah jika mengartikan terlalu dalam, karna ini hanya sampah".
Jangan di cerna.

0 komentar:

Posting Komentar