Kamis, 29 Desember 2016

Kenapa Orang Beragama Bersikap Intoleran?

Kenapa Orang Beragama Bersikap Intoleran?
oleh: Sumanto Al Qurtuby
Ada beberapa faktor yang membuat orang beragama bersikap intoleran dengan kelompok agama lain. Idealnya atau seharusnya, orang beragama itu toleran dan pluralis dalam bersikap. Bukan malah sebaliknya: intoleran dan anti-pluralisme. Lalu, apa faktor-faktor yang membuat orang beragama malah anti toleransi dan pluralisme?

Salah satu faktor mendasar adalah kuper alias kurangnya pengalaman, pergaulan, dan pergumulan dengan komunitas agama lain. Pengetahuan tinggi tidak menjamin seseorang bisa menjadi toleran dan pluralis jika tidak diiringi dengan pengalaman pergaulan dan pergumulan yang memadai dengan kelompok agama lain. Karena itu jangan heran, kalau ada banyak "orang pinter" tapi "keblinger" alias tidak ramah dengan keanekaragaman. Bahkan pengalaman pergaulan lintas-agama itupun tidak menjamin orang bersikap toleran, jika mereka tidak memiliki komitmen yang tulus untuk saling mengenali dan memahami keunikan masing-masing tradisi dan agama. Dengan kata lain, bukan sekedar “pengalaman empiris” tetapi “pengalaman transformatif” yang membuat sebuah pengalaman bisa lebih bermakna dan berdampak positif bagi muncul dan tumbuhnya sikap keberagamaan yang toleran dan pluralis.

Karena itu pula jangan heran jika Anda melihat orang-orang kampung yang polos, sederhana dan "minim" wawasan dan ilmu-pengetahuan mereka tetapi mampu bersikap toleran. Bukan karena "ilmu pengetahuan" yang membuat "wong cilik" dan "wong kampung" bersikap toleran tetapi lantaran mereka diperkaya dengan pengalaman yang “transforming” dengan seringnya bergaul dan bergumul dengan berbagai komunitas di berbagai acara-acara sosial, adat, dan kehidupan sehari-sehari mereka. Lagi pula, orang kampung dan wong cilik kebanyakan lebih suka memilih sikap “pragmatis”, simpel dan “tidak neko-neko” dalam kehidupan sosial-keagamaan. Ini berbeda dengan sikap “idealis” seperti yang dipraktekkan oleh sejumlah ormas keagamaan intoleran.
Lalu, apakah ilmu-pengetahuan itu sendiri bisa membuat orang bersikap pluralis dan toleran tanpa harus diiringi dengan pengalaman? Bisa, asalkan kita mendalami ilmu-pengetahuan itu dari berbagai sudut pandang. Kebanyakan umat beragama hanya mengaji dan mendalami ilmu pengetahuan dari satu sudut pandang saja sehingga wawasannya tidak “komprehensif”. Padahal, dengan mempelajari ilmu pengetahuan dari berbagai sudut pandang, mata hati dan pemikiran kita akan lebih terbuka dan maklum dengan fakta-fakta keanekaragaman pendapat yang bisa memperkaya cakrawala dan wawasan kita tentang sebuah masalah dan fenomena sosial-keagamaan sehingga tidak “kaku-njeku” seperti tiang listrik dalam berpendapat dan bersikap.

Karena itu saya sarankan kepada umat Islam khususnya, lebih khusus lagi bagi yang mau belajar, untuk mengaji dan mengkaji keislaman dari berbagai sudut pandang: sudut pandang Sunni, Shiah, Ibadi, Mu’tazilah, dlsb; sudut pandang berbagai ulama di berbagai mazhab: Maliki, Syafii, Hanafi, Hanbali, Ja’fari, dlsb; sudut pandang berbagai ulama tafsir dan hadis; sudut pandang berbagai disiplin: Islamic studies, antropologi, sejarah, sosiologi, dlsb; sudut pandang berbagai ilmu keislaman: fiqih, usul fiqih, akidah, tasawuf, filsafat, akhlak, dlsb.

Dengan berselancar ke berbagai sudut pandang ini, kita akan tahu betapa luasnya khazanah Islam laksana samudra yang tak bertepi, dan betapa mininya wawasan dan ilmu pengetahuan kita semini metromini di Jakarta dan kota-kota di Indonesia. Dengan berselancar ini pula akan membantu dan mengantarkan kita menjadi “rajawali” di langit yang mahaluas bukan menjadi “kodok” di dalam tempurung.

Apakah pengetahuan yang luas dan pengalaman yang kaya bisa menjamin orang menjadi toleran dan pluralis? Tidak. Jika hati dan pikiran kita penuh dengan “kotoran” dan “kepentingan”, maka seluas apapun pengetahuan kita dan sekaya apapun pengalaman kita, maka kita tidak mampu dan tidak akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang bijak, toleran, dan pluralis.
Jabal Dhahran, Arabia

Fatwa Natal

Fatwa Natal
oleh: Sumanto Al Qurtuby
Setiap menjelang Natal kok mesti ribut dan sibuk soal "fatwa Natal" sampai bosan aku mengomentari. Begini, terhadap fatwa sejumlah ulama dan institusi Islam seperti MUI yang mengharamkan mengucapkan selamat Natal itu harus disikapi dengan santai dan biasa-biasa saja. Tidak perlu overdosis dalam bersikap. Tidak perlu reaksioner, dan tidak perlu "lebay-njeblay".

Kelompok yang reaksioner biasanya mengaggap ulama / lembaga ulama yang mengfatwakan haram bagi umat Islam untuk mengucapkan "Selamat Natal" kepada umat Kristen sebagai kaum intoleran, anti-pluralisme, tidak berwawasan kebangsaan, dlsb. Sementara kelompok "lebay-njeblay" menggalang massa untuk mengawal fatwa sambil sweeping atribut-atribut Natal dimana-mana. Atribut-antribut Natal itu seperti ketupat atau opor ayam saat Idul Fitri gak ada urusannya dengan Natal apalagi "iman Kristen", jadi buang-buang energi saja antum ini he he.

Begini, tentunya para ulama yang mengfatwa haram bagi kaum Muslim untuk mengucapkan "Selamat Natal" kepada umat Kristen itu juga didukung oleh dalil yang valid, tidak sembarangan. Jadi harus dihormati pendapat mereka. Biasanya dasar atau sebab pengharaman itu lantaran dengan mengucapkan Natal berarti umat Islam secara diam-diam telah mengakui kebenaran akidah Kristen.

Jadi, mengucapkan Natal itu semacam "tacit endorsement" atau "dukungan terselubung / diam-diam" atas keimanan dan sistem teologi umat Kristen, dan karena itu haram bagi kaum Muslim untuk mengucapkannya. Inilah yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah, ulama abad ke-14 yang sangat berpengaruh di kalangan kelompok Salafi, dalam kitabnya Iqtidlaus Shirathil Mustaqim, yang banyak dikutip oleh para ulama hingga kini sebagai dasar pendukung pengaharaman tadi.

Apapun dasar atau dalilnya, yang namanya "fatwa" itu tetap saja sebuah pendapat hukum yang tidak mengikat. Setiap ulama atau lembaga keulamaan bisa mengeluarkan fatwa sesuai dengan dalil, dasar, dan argumen masing-masing. Karena hanya sebuah pendapat, untuk apa dikawal? Kalau setiap fatwa MUI harus dikawal, apa tidak pening kepala dan gempor tuh badan karena ada ribuan fatwa yang dikeluarkan MUI. Coba, silakan dikawal fatwa MUI yang mengharamkan rokok? Ya gak mungkin mau mengawal wong mereka pada merokok semua he he.

Nah, sekarang bagaimana kalau mengucapkan "Selamat Natal" sebagai "simbol pertemanan" saja, tidak ada urusannya dengan kekhawatiran menjadi "kafir" atau "musyrik"? Ya, silakan dimaknai sendiri, boleh atau tidak. Wong cuma mengucapkan "Selamat Natal" doang kok serius amat sampai urusan teologi.

Di kawasan Arab, ungkapan selamat Natal biasanya diterjemahkan sebagai "Id al-milad milad sa'id". Di Iran atau Afganistan, dengan ungkapan "Christmas Mubarak". Para tokoh dan kaum Muslim, khususnya di Palestina, Lebanon, Irak, dan kawasan yang banyak populasi umat Kristennya biasanya di Hari Natal begini mengucapkan: "led Mîlâd Sa'îdah, wa Sanah Jadîdah. Kullu 'Âm wa Antum bi-Khayr. Âmîn (Selamat Natal dan tahun baru. Semoga sepanjang tahun Anda selalu dikaruniai atau berada dalam kebaikan. Amin).

Kalau menurutku sih gampang saja, kalau hanya dengan mengucapkan "Selamat Natal" kepada teman-teman Kristen kok dianggap telah keluar dari Islam, ya nanti tinggal masuk lagi. Gitu aja kok repot...
Jabal Dhahran, Arabia

Para Ulama yang Membolehkan Mengucapkan "Selamat Natal"

Para Ulama yang Membolehkan Mengucapkan "Selamat Natal"
oleh: Sumanto Al Qurtuuby
Apakah semua ulama mengharamkan mengucapkan "Selamat Natal" seperti yang difatwakan MUI? Tidak. Ada banyak ulama yang membolehkan mengucapkan "Selamat Natal" dengan berbagai dalil, alasan, argumen, dan pertimbangan.
Seperti saya jelaskan sebelumnya, salah satu sumber utama pengharaman Natal sebetulnya berasal dari pendapat para ulama seperti Ibnu Taimiyah (w. 1328) atau Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 1350) yang kemudian menjadi rujukan sebagian ulama kontemporer, khususnya yang mengikuti aliran atau tradisi "Salafisme". Perlu dicatat, ada banyak ulama dan sarjana Muslim modern yang tidak setuju dengan pendapat Ibnu Taimiyah maupun Ibnu Qayyim yang dipandang tidak lagi akurat dan relevan.
Di antara ulama kontemporer yang membolehkan mengucapkan "Selamat Natal" kepada para keluarga, teman, kolega, dlsb yang beragama Kristen adalah Sheikh Ali Jumuah (Ali Gomaa). Beliau adalah mantan Grand Mufti Mesir (2003-2013), profesor Hukum Islam di Universitas al-Azhar, Mesir, serta anggota Dewan Fatwa Mesir dan International Islamic Fiqh Academy. Beliau berargumen, pengharaman mengucapkan "Selamat Natal" sebagai pelanggaran serius terhadap substansi Islam sebagai agama rahmat yang memberikan kedamaian kepada semua umat manusia maupun esensi Islam dan Al-Qur'an yang sangat menghormati Yesus.
Para Grand Mufti Mesir dan Ulama / Syaikh Al-Azhar pada umumnya memang sangat toleran, moderat, dan fleksibel seperti Syaikh Mahmoud Syaltout, Syaikh Muhammad Sayyid Tantawi, Syaikh Amhed al-Tayep, dlsb.
Ulama lain yang membolehkan mengucapkan "Selamat Natal" adalah Syaikh Dr. Muhammad Tahir-ul-Qadri, pendiri Minhaj al-Qur'an International, ahli tafsir terkemuka, dan seorang yang sangat alim dan dihormati bukan hanya di tanah kelahirannya di Pakistan tetapi juga di negara-negara Barat. Beliau juga seorang ulama yang sangat anti terhadap kekerasan dan terorisme berbau agama. Setiap tahun beliau selalu mengucapkan "Selamat Natal" (dalam bahasa Inggris, Urdu, dan Arab) kepada umat Kristen karena mengaggapnya sebagai bagian dari respek terhadap Yesus, Kristen, dan Injil yang juga diakui dalam Al-Qur'an, serta komitmen terhadap pesan universal kemanusiaan Islam terhadap semua makhluk.
Suatu saat Syaikh Tahir-ul-Qadri menulis, "The [Xmas] day highlights the teachings and message of Jesus Christ. Belief in the Prophethood of Jesus Christ and Bible being the Divine Book is part of Muslims faith. Allah Almighty sent him to the world at a time when the world needed love, compassion for humanity and peace.”
Imam Salim Chishti, seorang ulama-sufi yang cukup berpengaruh di Barat, adalah ulama kontemporer lain yang menghalalkan mengucapkan "Selamat Natal" bagi umat Islam kepada umat Kristen atas dasar spirit persaudaraan iman. Bahkan Shaikh Yusuf Qardawi, seorang ulama kharismatik berpengaruh dan penulis produktif yang kini menetap di Qatar, juga membolehkan mengucapkan "Selamat Natal" dengan alasan bahwa pengucapan itu sebagai bentuk dari kebaikan, cinta, dan kasih sayang yang menjadi ruh agama Islam terhadap umat non-Muslim, apalagi umat Kristen yang merupakan sesama rumpun agama Semit.
Demikian "kuliah virtual" singkat kali ini semoga ada manfaatnya. Akhirul kalam, yang saya herankan dan renungkan dan membuatku "gundah gulana" sampai sekarang kenapa fatwa para ulama termasuk MUI itu hanya mengharamkan pengucapan "Selamat Natal" saja. Kenapa mereka tidak mengharamkan "Libur Natal", "Kue Natal" atau "Diskon Natal", misalnya? Kenapa eh kenapa. Jika mengucapkan Natal saja dianggap "mengakui" kepercayaan umat Kristen sehingga diharamkan apalagi ikut menikmati libur, kue dan diskon Natal he he.

Umat Islam Mestinya Berterima Kasih kepada Kaum Liberal

Umat Islam Mestinya Berterima Kasih kepada Kaum Liberal
oleh: Sumanto Al Qurtuby
Banyak kaum Muslim di Indonesia (dan juga negara-negara mayoritas Muslim lain) yang begitu antipati terhadap kelompok liberal. Padahal, di negara-negara Barat, kaum liberalah yang banyak membantu dan membela kaum Muslim dari gempuran, olok-olok, dan pelecehan kaum konservatif. Kaum liberal ini pula, baik yang berafiliasi ke Kristen, Yahudi, sekularis, agnostic, ateis, dlsb yang membentengi umat Islam dari serangan kelompok Islamophobis yang sudah menjadi “industri” di Barat.

Liberalisme adalah sebuah filosofi atau “pandangan dunia” yang bertumpu pada ide-ide kebebasan dan persamaan dalam segala aspek kehidupan: keagamaan, kepercayaan, pendidikan, ekonomi, intelektualisme, dan hak-hak dasar kemanusiaan lain, tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, etnis, bahasa, dlsb.. Jika “liberalisme klasik” lebih menekankan pada aspek peranan kebebasan (liberty), maka “liberalisme sosial” lebih menekankan pada peranan persamaan (equality).

Karena memandang pentingnya “kebebasan” dan “persamaan” inilah, maka kaum liberal selalu berada di garda depan dalam pembelaan terhadap kelompok minoritas di Barat, termasuk kaum Muslim. Seperti tampak dalam foto di bawah ini, dimana sekelompok non-Muslim di Amerika (?) sedang menjaga umat Islam yang sedang menjalankan salat Jum’at di sebuah masjid atau Islamic Center. Mereka melakukan aksi ini karena adanya gelombang pendapat yang nyinyir terhadap Islam dan kaum Muslim yang diserukan oleh kelompok konservatif yang mendukung Donald Trump. Aksi mereka ini persis seperti akang-akang Banser NU yang menjaga gereja-gereja pada waktu Natal karena adanya pendapat-pendapat nyinyir terhadap Kristen yang diserukan oleh sekelompok Muslim konsevatif. Kaum liberal pula yang banyak membantu dan “membekingi” pendirian masjid-masjid atau pusat-pusat kajian Islam di Barat, termasuk masjid-masjid yang disponsori oleh umat Islam Indonesia di Barat.

Hanya saja sangat disayangkan ada sejumlah kelompok Islam konservatif (baik yang di Indonesia maupun yang di Barat) yang hanya melihat “sisi negatif” masyarakat Barat (terutama Kristen dan Yahudi), persis seperti kaum konservatif Barat yang hanya melihat “sisi negatif” Islam dan kaum Muslim. Jika hanya negatifnya saja yang dilihat, kapan kita bisa menilai dan mengapresiasi kontribusi positif umat lain? Rajin-rajinlah bertafakur dan meditasi supaya hati dan pikiran kita tidak dipenuhi oleh "pikiran-pikiran jorok" dan “kotoran-kotoran duniawi”.

Di zaman Internet seperti ini, hendaknya kita harus saling menahan dan menjaga diri dari aneka perbuatan kekerasan dan intoleransi karena secuil apapun perbuatan yang kita lakukan akan berdampak global dan dibaca oleh umat sepenjuru dunia. Ingat umat Islam tidak hanya di Indonesia saja. Mereka bertebaran dimana-mana: dari Amerika dan Australia sampai Cina dan Russia, dan bahkan Amerika Latin. Di Indonesia, kaum Muslim memang mayoritas, tapi di sejumlah negara lain, mereka menjadi minoritas. Apa yang umat Islam lakukan di Indonesia, akan berdampak pada nasib kaum Muslim di negara-negara lain.

Karena itu, saya ingatkan janganlah sekali-kali suka “membusungkan dada” alias sombong merasa diri mayoritas sehingga bisa berbuat seenaknya. Kalau “membusungkan perut” sih boleh-boleh saja karena mungkin kekenyangan ya habis makan-makan enak, apalagi saat liburan Natal begini makin “busung” aja tuh perut he he
Jabal Dhahran, Arabia

Mari Kita Wujudkan Pluralisme Agama di Masyarakat

Mari Kita Wujudkan Pluralisme Agama di Masyarakat
oleh: Sumanto Al Qurtuby

Ini lanjutan “kuliah virtual” tentang pluralisme supaya lebih “ngeh” (jelas dan paham) karena saya perhatikan masih ada sebagian yang belum “ngeh” dengan penjelasanku tentang pluralisme kemarin. Saya sarankan bagi Anda yang belum membaca postinganku kali ini untuk membaca postingangku sebelumnya (“Antara Pluralitas dan Pluralisme”) supaya nyambung.

Seperti saya katakan sebelumnya, jika pluralitas atau keragaman adalah sesuatu yang bersifat alami (natural) sebagai anugerah, rahmat, atau pemberian Tuhan, maka pluralisme merupakan “konstruksi sosial” umat manusia untuk menyikapi fakta-fakta pluralitas tadi agar tetap tumbuh menjadi plural dan tidak berubah menjadi “bencana kemanusiaan”. Pluralitas harus dipandang sebagai sebuah “nikmat Tuhan” yang harus disyukuri, dirawat, dan dikelola dengan baik agar tidak berubah menjadi “bencana kemanusiaan” tadi.

Sayangnya, di masyarakat kita—dari dulu hingga sekarang—masih cukup banyak kelompok agama, etnis, suku, budaya, dlsb yang memandang pluralitas agama, etnis, suku, budaya, dlsb sebagai “malapetaka” dan “ancaman” terhadap eksistensi kelompok mereka. Karena overdosis kekhawatiran inilah, sejumlah kelompok melakukan berbagai macam cara untuk menolak pluralitas tadi dan pada saat yang sama memperkenalkan dan memaksakan “singularitas” alias penyeragaman agama, suku, etnis, budaya, dlsb yang dilakukan atas nama dogma, ideologi, negara, mazhab, supremasi etnis, dlsb.

Pluralisme, termasuk pluralisme agama, susah dan tidak akan terwujud di masyarakat tanpa adanya upaya serius dan kerja keras untuk mewujudkannya. Pluralisme sulit terwujud jika kita memaksakan klaim-klaim kebenaran dan superioritas atas kelompok dan umat lain. Pluralisme juga susah terlaksana tanpa adanya komitmen yang tulus dan dialog yang sehat untuk mengerti dan memahami “yang lain”.

Kita kadang gampang sekali menghakimi sesuatu atau properti milik agama, sekte, atau mazhab lain sebagai buruk, bengkok, sesat, dlsb tanpa berusaha untuk belajar dan mencari penjelasan dari kelompok yang mereka hakimi itu. Karena tidak ada semangat untuk belajar dari “yang lain” serta nihilnya komitmen untuk memahami dan mengerti “yang lain”, maka yang terjadi adalah kesalahpahaman sehingga gampang mengolok-olok kelompok lain dan menuduh pihak lain keliru atau “salah jalan”. Fenomena ini terjadi di semua agama, bukan hanya Islam atau Kristen saja.

Jadi, pluralisme baru akan terwujud jika masing-masing kelompok bersedia untuk “mendengar” pihak lain dan menurunkan ego dan rasa superioritas untuk kemudian bersedia belajar dari dan bergumul dengan “yang lain” itu. Tanpa niatan tulus untuk belajar, bergumul, dan berdialog ini, maka pluralitas akan tetap menjadi pluralitas tidak akan menjadi pluralisme.

Misalnya, di beberapa kota di Indonesia, kita melihat ada sejumlah bangunan tempat ibadah dari berbagai kelompok agama dan sekte berdiri berjejer-jejer berdekatan. Atau di Maryland, Amerika Serikat, terdapat berbagai tempat ibadah yang berdekatan seperti gereja Katolik Vietnam, kuil Budha Kamboja, gereja Ortodoks Ukraina, Muslim Community Center, gereja Disciples of Christ, kuil Hindu Mandir Mongolia, dll.

Semua ini adalah contoh dari “pluralitas” bukan “pluralisme”. Tanpa adanya dialog intensif atau pergumulan terus-menerus antara satu komunitas dengan lainnya, maka pluralitas itu tidak akan menjelma menjadi pluralisme. Jadi, sekali lagi saya tegaskan, kata kunci dari pluralisme adalah “pergumulan kreatif-intensif” terhadap fakta pluralitas itu guna menciptakan apa yang disebut “masyarakat bersama”. Dengan demikian, pluralisme itu sesuatu yang sangat positif yang mestinya harus diupayakan, bukan malah dicaci-maki dan difatwa haram (bersambung)
Jabal Dhahran, Arabia

Selasa, 13 September 2016

Upacara 17 agustus di Argopuro Lasem

foto bersama sebelum upacara 17 agustus di puncak Argopuro Lasem Rembang


Kabut tebal menghalangi jarak pandang. Aku menghadap ke bawah, hanya bisa menerawang keindahan gemerlap lampu kota. Di depanku dedaunan melambai di terpa angin malam. Bulan di atas mendadak di telan kabut. Tenda pendaki berderet memanjang dari timur ke barat. Sambil bersandar di tugu puncak gunung Argopuro, Lasem, Rembang aku menghadap ke selatan. Melepas lelah sambil bercengkrama dengan teman-teman. Aku kembali belajar tentang arti hidup.  Malam dan kabut seakan berbisik. bersuara  di telinga kanan menjelaskan apa itu perjuangan. Inilah cerita perjalananku dengan teman-teman mendaki gunung tertinggi di kabupaten Rembang.

Acara muncak dalam rangka memperingati hari ulang tahun NKRI ke tujupuluh satu di Argo Lasem tadi malam berawal dari koordinasi lewat facebook.  Argo sudah biyasa di pilih temen se kampungku sebagai tujuan saat mengadakan acara seperti tahun baru, tujuh belasan, atau sekedar ingin naik gunung. Aku masih ingat dua hari lalu, ketika temanku Memet update status mengajak naik Argo. Aku yang sebelumnya juga punya keinginan mengadakan upaca sederhana di atas Argo menyepakati ajakan Memet.

Tanpa persiapan matang, keinginan upacara di puncak akan gagal total, itulah prasangkaku. Aku tidak bisa menghubungi teman di rembang yang sekiranya bisa di ajak naik gunung. Aku hanya menghubungi Topeng yang sama-sama jadi pengangguran saat ini. Topeng bilang akan berangkat dengan Yudi, teman ngluyur sekampungnya. Karna tidak punya peralatan lengkap, juga mengingat kapasitas Argo hanya bisa di tumpangi sedikit pendaki, maka ku cukupkan berangkat tidak lebih dari sepuluh orang.

Pukul setengah lima sore, aku dan Miftah, panggilanya Mip berangkat dari rumah. Memet bilang kalau akan berangkat dari Lamongan jam tiga sore dan akan langsung ke desa Ngroto, pos pendakian. Yanto masih bimbang antara berangkat atau tidak. Topeng sudah menunggu di masjid agung Pamotan. Setelah bertemu Topeng di Masjid, kita berangkat bareng menuju Desa Ngroto. Di jalan Topeng membeli dua kembang api panjang. Katanya akan di nyalakan saat sampai puncak.

Jam lima lebih kita sampai di Ngroto, memarkirkan motor, langsung tancap gas berjalan naik. Yanto ku telfon, dia jadi ikut naik dengan Ulum tapi menyusul. Aku pesan makanan padanya karna  perut sudah mulai minta nasi. Sebenarnya ada dua pilihan, menunggu azan mahrib lalu sholat berjama’ah di masjid depan tempat parkir atau langsung naik. Karna kita hanya bawa satu senter, takut hari akan terlalu gelap maka  kita putuskan langsung naik. Nanti bisa sholat di atas. 

Perjalanan dari tempat parkir ke atas butuh waktu sekitar dua jam.  Meski ketinggianya Cuma delapan ratus enam MDPL, namun treknya  bagiku lumayan menguras tenaga. Apalagi bagi pemula, perjalanan di Argo pasti cukup melelahkan. Dari bawah aku berharap masih mendapat tempat istirahat, karna sebelumnya  melihat parkiran di depan rumah warga sudah banyak motor. Kalaupun tidak dapat tempat mendirikan tenda yang penting dapat tempat sekiranya cukup untuk membaringkan tubuh.

Pertama kali  kita jalan, area kebun warga  menjadi pemandangan kanan-kiri. Setelah itu baru kita akan memasuki hutan. Untuk jenis pohon yang tumbuh di sekitar gunung  aku kurang tahu. Argo merupakan salah satu hutan lindung yang ada di kabupaten Rembang. Jika kita naik pada siang hari maka pemandangan hutanya terlihat masih alami. Pohonya masih rimbun, pendakianku sebelumnya sempat melihat beberapa satwa liar. Yang paling menarik ketika melihat kera, saat itu aku sedikit takut karna naik hanya berdua. Tapi keranya lari saat tau kalau ku amati.

Di tengah perjalanan. Mip, Topeng dan Yudi mulai tampak lelah. Dia mulai menanyakan butuh berapa lama untuk sampai puncak. aku khawatir kalau bilang masih lama nanti akan menurunkan semangatnya. Aku bohongi mereka dengan mengatakan “santai, iku lho karek sitik. Delok ah,,, nduwur wes ketok.” Awalnya ketiga temanku percaya. Tapi, karna tidak sampai-sampai di atas dia mulai menanyakan lagi dan sesekali mengumpat. “asem eg, di bodoni Zaim. Jarene kurang sitik jebule ijeh adohe ngene” celetuk Mip. Bahkan temenku ketemu di jalan, dia anak Tuban bilang “kapan, yo…yo… tekan duwur iki. Ndak iseh limang jam o…….”
Hampir dua jam kita berjuang naik. Sesampainya di atas, segera mencari tempat agak lapang.  Tenda pendaki terlihat berderet memanjang, berdempetan. Tak ada tempat lagi untuk mendirikan tenda. Aku melihat di sebelah selatan tugu ada tempat agak lapang. Luasnya hanya satu meter setengah memanjang ke barat. Biasa di pakai untuk jalan anak-anak.  Layar biru ku gelar untuk istirahat menunggu Memet dan Yanto.

Pukul delapan malam
Kabut tebal menghalangi jarak pandang. Angin kencang dari timur mengusir keringat, membuat daun melambai.  Aku menghadap ke bawah. Berharap bisa menikmati gemerlap lampu pedesaan.  Bulan yang semula terang mendadak menghilang. Mip, melepas lelah, membuang gundah. Dia tidur pulas. Aku masih menunggu Memet, Yanto, Ulum dan teman lain. Berharap dia segera sampai atas.
Pukul setengah sepuluh
Aku sering menengok ke arah timur. Melihat orang lalu-lalang mencari tempat istirahat. Di sebelah barat ramai sekali. Segerombol anak sedang memainkan gitar dan bernyanyi bersama. Sepertinya asyik sekali, rasanya ingin gabung tapi rasa capek belum hilang. Memet dan satu temanya terlihat memakai kaos, bersepatu, membawa tas pegawai. Saat sampai di depanku aku panggil namanya, dia sepertinya tidak tahu kalau aku yang sedang duduk di samping tugu. Memet membawa kabar bahwa Yanto sudah sampai Pamotan, tapi dia jalan duluan. Kita menikmati rokok bersama. Tak lama kemudian Ulum, Yanto dan dua temanya datang.

Yanto membawa nasi, lele goreng, tempe goreng, tahu dan sambal tomat. Kita makan bersama dengan lahap. Sehabis makan, Yanto tidur nyenyak tanpa ingin menikmati suasana malam di gunung. Dia seperti hanya pindah tidur doang. Sedang yang lain saling bercerita, mengobrol sampai larut malam.  Jam menunjukkan hampir pukul nol-nol. Ada agenda menyalakan kembang api di waktu tersebut. Tapi aku tertidur, sepertinya teman di sampingku juga tidur semua.


Pukul satu dini hari, setelah terbangun dari tidur gara-gara hujan turun. Aku melihat kabut masih tebal. Jarak pandang hanya beberapa meter saja. Saat hujan datang, tikar yang semula kita pakai sebagai alas tidur kita ubah menjadi atap penangkal hujan. Untung, selang sekitar sepuluh menit hujan  reda. Tikar kita pakai menjadi alas untuk tidur lagi. Rencana menyalakan kembang api pukul nol-nol WIB gagal. Karna kita baru bisa bangun jam satu  maka saat hujan reda kita baru menyalakan kembang api.

Walaupun Topeng seorang ekonom yang mempunyai tekat untuk membawa kabupaten Rembang menjadi lebih baik tapi untuk urusan memegang kembang api dia tidak berani. Entah tidak berani sungguhan, atau hanya berpura-pura aku tidak tahu. Dua kembang api yang ku bawa dari bawah dan sempat di bicarakan cewek-cewek saat hampir sampai atas ini akan ku nyalakan sendiri. Ada cewek bilang “wah, ono seng nggowo kembang api. Lak asik iki.” Temanya menyahut. Aku terus berjalan ke atas tidak mendengar pembicaraan selanjutnya.

 Topeng memegang hp, bersiap mengabadikan momen malam berkabut dengan letusan warna-warni kembang api. Aku pegang satu kembang api panjang dengan penuh rasa bangga. Rasanya aku kembali menjadi anak kecil bermain kembang api di malam lebaran. Mip, memegang bagian atas kembang api dan menarik ucengnya agar bisa di nyalakan memakai korek bensol. Mulanya aku agak takut, karna Topeng tidak berani.tapi ada rasa yang hadir “anak kecil aja berani masak aku tidak”.
Kembang api menyala. Langit penuh  kabut di hiasi percikan cahaya warna-warni kembang api. Orang-orang di sekitar keluar tenda untuk menonton. Banyak yang berteriak  menunjukkan rasa gembira. Ada juga yang berteriak lantang “merdeka..” aku fokus memegang kembang api. Temen-temen mencoba mengambil gambar tapi kabut  mencadi penghalang.  Suasana begitu menarik, aku lupa segala masalah yang ada hanya fokus menikmati suasana. Selesai menyalakan kembang api, pada kembali tepar meneruskan tidur. Tenda kiri-kanan masih mengumandangkan musik.

Pukul tiga dini hari

Aku terbangun. Kabut menghilang di bawa angin menuju ke arah barat. Bulan terlihat terang, bintang bertaburan. Kemerlip lampu jalanan terlihat istimewa. Aku duduk di atas tugu. Bangunan persegi panjang berukuran empat puluh senti, panjangnya sekitar dua meter ini seperti kursi raja di istana. Aku merasa lebih tinggi dari tempat duduk Bupati saat ini. Rasanya begitu tenang, angin tak se kencang sebelumnya. Dunia mulai menampakkan wajahnya.

Saat aku beralih menghadap ke utara, lampu di jalan pantura membentang agak bundar di tepi pantai. Dari arah barat, PLTU di Kecamatan Seluke telihat gagah. Lampunya paling terang di antara yang lain. Suasana seperti inilah waktu tepat untuk menulis. Meski agak gelap, buku tulis di tas aku ambil beserta bolpoint. Saat melihat pohon-pohon seperti gambar satu dimensi yang pernah saya gambar dengan jelek waktu SD membuat aku seperti seorang sastrawan. Mampu menangkap malam dengan segala keagungan pesan yang di sampaikan Tuhan.

Pena mulai menyentuh kertas sungguhan. Tangan mulai mengutarakan fikiran. Inilah tulisan yang tertera:

KEMERDEKAAN KITA

Duaratus lima puluh juta lebih saudara kita sebangsa se tanah air hari ini merayakan ulang tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke tujupuluh satu
Lihatlah,
Lihat di belakangku
Terbentang luas seklumit surga Indonesia
Lihatlah, lihat
Bibir pantai seakan pandai melukis suasana hati
Berkelok, membentang pasir putih
Seputih tulang kita yang tumbuh membesar
Dari sejengkal tanah kita
Tanah nenek moyang
Tanah yang patut kita miliki sepenuhnya
Tanah yang patut kita kelola sewajarnya
Bukan mereka, bukan
Sungguh bukan mereka
Mereka yang mencantumkan dirinya sendiri sebagai penjajah dan menyebarkan watak penjajah
Meskipun dia berwajah manis, ber angka, berrwarna pula
Jika dia tidak memandang Indonesia dengan cinta
Maka dia bukan saudara kita
Setapak kaki ku tinggal di puncak ini
Puncak tertinggi kota kelahiranku
Rumput dan bunga, rumput berbunga
Bunga dan duri, bunga berduri
Pohon jati pohon mahoni, kaulah temanku bermain hari ini
Lembaran daun tak ada yang layu kecuali dia yang terkapar di tanah
Sesekali ku petik satu, ku bawa di perjalanan
Aku dan segala rasa cinta
Menumpahkan segala duka
Menepis segala lara
Atas kemerdekaan Republik Indonesia
Mari bersulang dengan alam
Sebelum kita membawa rasa bangga dan cinta Nusantara untuk memeluknya selamanya

17 agustus 2016

Pemandangan istimewa dengan pernak-pernik tubuh alam hanya datang tidak lebih dari satu jam. Pukul empat kabut datang lagi. Jarak pandang kembali gelap. Aku ingin kembali tidur, saat ku baringkan tubuh ini sebentar waktu terasa berjalan cepat. Pukul setengah enam para pendaki bangun. Tenda di sekitar tugu di bubarkan guna persiapan upacara kemerdekaan oleh seluruh yang hadir di puncak Argopuro. Pemandangan masih berkabut, para petugas upacara mempersiapkan kebutuhan upacara.

Peserta upacara dari berbagai desa, kecamatan, kabupaten dan kota terlihat ribut, sibuk dengan kameranya masing-masing. Begitu juga temanku. Yanto mulai ganti kostum, Memet sibuk dengan kamera hp, Topeng dan Yudi tampak kecewa dengan kabut yang menhalangi pemandangan laut. Mip dan ulum sibuk bercanda dan berfotoria. Ke dua teman Yanto berpamitan untuk turun duluan. 

Di samping tugu ada bambu panjangnya sekitar tiga meter di pakai tiang bendera. Saat tenda sekitar tugu sudah tidak ada, peserta mulai baris menghadap bendera. Yang sebelah timur menghadap ke barat yang barat menghadap ke timur.  Aku dan temanku mencari tempat enak buat menyanyikan lagu Indonesia raya bersama. Kita berjalan ke arah barat. Melewati tenda-tenda yang di depanya pada selfi semua. Aku memegang tongsis beserta hp dengan kapasitas kamera bagus. Dengan tongsis bukan berarti alay, bukan berarti anak hits. Tongsis memang mempermudah pembuatan vidio dan foto. 

Aku membuat vidio yang memperlihatkan suasana pagi itu. Perjalanan ke arah barat saya rekam. Saat sampai di ujung barat dan tidak ketemu tempat setrategis kita memutuskan untuk kembali ke timur. Rombongan dari Tuban yang kita temui di perjalanan terlihat bergerombol. Saat peserta upacara menyanyikan lagu Indonesia raya, kita dan rombongan dari Tuban  mengumandangkan sendiri di sebelah barat. Rasa nasionalisme seketika tumbuh lebih dari lima puluh persen, kita sangat bersemangat menyanyikan lagu kebangsaan. Aku bertugas merekam, tapi sayang wajahku tidak ikut ter rekam.

Vidio ke dua yang saya rekam memperlihatkan suasana upacara. Namun tidak lengkap dari awal. Setelah selesai berfoto dan membuat vidio kita menunggu matahari datang. Tapi sayang, kabut masih saja tebal malah gerimis datang tidak bilang-bilang. Jam delapan pagi kita turun. Di perjalanan angin datang begitu kencang. Jalanan licin, menakut-nakuti perasaan, takut tergelincir di jurang. Yang paling sering tergelincir adalah Mip, perawakanya yang besar agak gendut membuatnya sulit menyeimbangkan badanya. Aku, Topeng, Yudi, Memet, Mip berjalan beriringan. Sekali ada yang tergelincir satu yang lain membantu.

Terkadang trek licin menjadi hiburan di perjalanan. Bagaimana tidak menghibur coba, melihat orang tergelincir lalu mengumpat dan bangun lagi itu sesuatu banget. Misalnya saja Topeng, dia tergelincir di trek curam, tanahnya licin tapi tidak berbatu. Saat dia mengumpat kita malah saling ejek dan menertawakan satu sama lain. Selain saling ejek juga saling memperingatkan jika ada medan berbahaya. Trek terahir dekat dengan pos satu kita mendapatkan bonus menonton Mip tergelincir sampai terdengar suara “gedeblaaak…” aku menoleh ke belakang Mip suda duduk di tanah. Topeng dan Yudi tertawa lepas, aku dan Memet ikut tertawa. 

Sesampainya di pos, kita menikmati es the bersama lalu pulang ke rumah masing-masing dengan rasa syukur karna pulang dengan selamat tanpa ada suatu halangan yang berarti. Kebersamaan semalam akan menjadi ukiran sejarah yang pasti kita kenang bersama. Bangga menjadi anak Indonesia dengan segala keindahan alamnya melekat di dada. Menatap Indonesia lebih baik menjadi harapan dari kita semua. Semoga kita menjadi aktor-aktor Indonesia di masa mendatang yang akan membawa kemajuan.

Salam, DIRGRAHAYU NKRI Ke 71. Kerja Nyata membangun INDONESIA.
MERDEKA.
 

kebersamaan di puncak sindoro

kebersamaan di puncak Sindoro