Sabtu, 17 Oktober 2015

awal november


Awal November
Setiap kali aku bangun,  tentang apa yang akan memberi  hidup, adalah hal pertama dalam fikiranku. Seperti pagi ini, aku ingat tadi malam yang memberi  aku pelajaran akan banyaknya orang yang berebut kekuasaan. Aku heran pada kebanyakan orang termasuk diriku yang belajar akan bagaimana meraih kedudukan, walau aku tak kan melakukan dan tak  berminat pada kedudukan tersebut.
Sepertinya Negara ini terjangkit akan penyakit miskinya pemimpin baik, itu mengakibatkan setiap anak yang baru lahir dari rahim ibundanya menatap cita-cita untuk berkuasa agar negaranya bebas dari kesengsaraan. Waktu berjalan terus, pendidikan dan lingkungan merubah cita-cita mulia anak bangsa yang gandrung akan kemerdekaan  sesungguhnya. Tak sedikit ketika remaja cita-cita semula mulia di tikam kebusukan yang tumbuh subur, narkoba, free sex, cinta monyet, kemiskinan orang tua dan hidup foya-foya adalah gaya hidup yang menenggelamkan generasi muda. Banyak orang berpendidikan namun tak mempunyai jiwa social, banyak anak jalan berjiwa social namun tak mampu untuk membantu hal yang besar.
Di kampus yang katanya kampus pergerakan aku tak merasakan ada gerakan untuk menjadi seorang negarawan besar yang akan membawa kemerdekaan. Di kampus yang katanya kampus pendidikan aku hanya menemukan tongkrongan di jalan membahas masa depan dirinya yang tak kunjung membahagiakan. Ada banyak beasiswa salah sasaran hingga menimbulkan kesenjangan kepintaran.
Di siang yang panas aku melangkah menelusuri  jalanan menanjak seperti hidupku yang selalu harus bertindak agar tak cukup berada di lapisan bawah. Di pasar,  siang ini aku bertemu ibu pedagang sayur baik hati, mungkin dia tau kalau aku anak yang tak mampu, atau memang ibu itu baik hati kepada para pembeli. Saat aku membeli brambang, sayuran, dan krupuk ibu itu sedang menyisihkan sayuran layu bersanding dengan temanku, aku tak tau isi percakapan temanku hingga si ibu itu memberikan sayur kangkung yang menurutku itu banyak kepadaku untuk ku masak bersama teman-temanku. Sungguh trimakasihku kepadamu wahai ibu penjual sayur di pasar, aku berhutang budi padamu atas kebaikan hatimu. Pelajaran yang satu ini membuatku ingin segera aku berebut waktu untuk mendapatkan sesuatu yang sekiranya itu bisa membantu rakyat di negaraku, namun apa itu? Sampai saat inipun aku belum tau.
 Bertahan di kota, bagiku adalah hal yang sulit namun harus ku lakukan  karna itu adalah kewajibanku untuk menuntut ilmu. Memang ilmu yang aku dapat belumlah cukup untuk memenuhi target yang pernah aku impikan, namun aku percaya walaupun lambat, namun perlahan aku akan menuju ke sana, berjuang untuk manusia  yang mencintai manusia dan buminya. Aku percaya tuhan selalu mendengar do’a-do’a ayah ibuku, aku yakin tuhan akan mengabulkan do’a-do’a terbaik ayah ibuku untukku maka dari itu bertahan di sini adalah hal terbaik untuk hidupku walau terkadang aku rindu pada kapung halamanku.

0 komentar:

Posting Komentar