Awal November
Setiap
kali aku bangun, tentang apa yang akan
memberi hidup, adalah hal pertama dalam
fikiranku. Seperti pagi ini, aku ingat tadi malam yang memberi aku pelajaran akan banyaknya orang yang
berebut kekuasaan. Aku heran pada kebanyakan orang termasuk diriku yang belajar
akan bagaimana meraih kedudukan, walau aku tak kan melakukan dan tak berminat pada kedudukan tersebut.
Sepertinya Negara ini terjangkit akan penyakit miskinya
pemimpin baik, itu mengakibatkan setiap anak yang baru lahir dari rahim
ibundanya menatap cita-cita untuk berkuasa agar negaranya bebas dari
kesengsaraan. Waktu berjalan terus, pendidikan dan lingkungan merubah cita-cita
mulia anak bangsa yang gandrung akan kemerdekaan sesungguhnya. Tak sedikit ketika remaja
cita-cita semula mulia di tikam kebusukan yang tumbuh subur, narkoba, free sex,
cinta monyet, kemiskinan orang tua dan hidup foya-foya adalah gaya hidup yang
menenggelamkan generasi muda. Banyak orang berpendidikan namun tak mempunyai
jiwa social, banyak anak jalan berjiwa social namun tak mampu untuk membantu
hal yang besar.
Di kampus yang katanya kampus pergerakan aku
tak merasakan ada gerakan untuk menjadi seorang negarawan besar yang akan
membawa kemerdekaan. Di kampus yang katanya kampus pendidikan aku hanya menemukan
tongkrongan di jalan membahas masa depan dirinya yang tak kunjung
membahagiakan. Ada banyak beasiswa salah sasaran hingga menimbulkan kesenjangan
kepintaran.
Di
siang yang panas aku melangkah
menelusuri jalanan menanjak seperti
hidupku yang selalu harus bertindak agar tak cukup berada di lapisan
bawah. Di pasar, siang ini aku bertemu ibu pedagang sayur baik
hati, mungkin dia tau kalau aku anak yang tak mampu, atau memang ibu itu
baik
hati kepada para pembeli. Saat aku membeli brambang, sayuran, dan krupuk
ibu
itu sedang menyisihkan sayuran layu bersanding dengan temanku, aku tak
tau isi
percakapan temanku hingga si ibu itu memberikan sayur kangkung yang
menurutku
itu banyak kepadaku untuk ku masak bersama teman-temanku. Sungguh
trimakasihku
kepadamu wahai ibu penjual sayur di pasar, aku berhutang budi padamu
atas
kebaikan hatimu. Pelajaran yang satu ini membuatku ingin segera aku
berebut
waktu untuk mendapatkan sesuatu yang sekiranya itu bisa membantu rakyat
di
negaraku, namun apa itu? Sampai saat inipun aku belum tau.
Bertahan
di kota, bagiku adalah hal yang sulit namun harus ku lakukan karna itu adalah kewajibanku untuk menuntut
ilmu. Memang ilmu yang aku dapat belumlah cukup untuk memenuhi target yang
pernah aku impikan, namun aku percaya walaupun lambat, namun perlahan aku akan
menuju ke sana, berjuang untuk manusia
yang mencintai manusia dan buminya. Aku percaya tuhan selalu mendengar
do’a-do’a ayah ibuku, aku yakin tuhan akan mengabulkan do’a-do’a terbaik ayah
ibuku untukku maka dari itu bertahan di sini adalah hal terbaik untuk hidupku
walau terkadang aku rindu pada kapung halamanku.






0 komentar:
Posting Komentar