Jumat,
24 Januari 2014
Baru aku tahu, alam semesta tak sanggup menyembunyikan kesedihanya yang mendalam. Terlihat sejak seminggu ini, langit bersedih. Dia tumpahkan air yang ada dalam matanya hingga tak menyisa. Dia menangis ter eguk-eguk menahan luka di hatinya.
dia sadar tokoh republik Indonesia, tokoh islam dunia dari pulau jawa. di ambil oleh tuhan yang maha kuasa. bumi pun tak kalah sedihnya, selain sedih karnya di tinggal oleh manusia yang jauh dari cela. bumi jadi tindihan oleh banyaknya tumpahan air mata langit, juga ter lihat muram wajahnya.
di mana-mana, banjir melanda. ketika alam ini bersedih, apalagi kita sebagai manusia yang hanya setengah dari partikel atom. maha sangat kecil di banding dengan alam semesta. aku tak kuat menahan rasa, rasa yang tak bisa ku bayangkan betapa, ketika di tinggal sang idola
yaitu sang maha guru Indonesia.
langkahku mungkin te seok-seok kalu saja tidak di beri secercah ilmu belia yang melaut. dalam termenungnya hatiku, aku hanya bisa berdoa. buatku dan buat kita semua
semoga indonesia ke depan muncul mbah sahal- mbah sahal kecil yang mampu meneruskan perjuanganya. semoga simbah sahal sendiri bahagia di sisih allah yang maha kuasa.
“Bumi
Menangis Kehilangan Pemimpin Umat
Islam”
Telah berpulang ke rahmatullah,
ulama’ besar nahdlatul ulama yaitu KH Dr Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz Hc,
(ketua MUI pusat, rois am jam’iyyah nahdlatul ulama, pengasuh pondok pesantren
matholi’ul falah Kajen, Margoyoso, Pati) jum’at 24 januari 2014 pukul 01.05
dini hari.
Berita duka yang muncul di
media-media seluruh Indonesia mengabarkan tentang wafatnya ulama’ besar
nahdlatul ulama’, saya sendiri baru tahu setelah terbangun dari tidur dan salah
satu teman saya membuka sms nya lalu membacanya dengan sedikit keras
mengabarkan bahwasanya mbah sahal tinggal, sontak saya kaget dan terpukul hati
saya, innalillahi wa inna ilaihi rojiun, ucap saya.
Muncul dari hati yang terdalam
keinginan untuk bisa mengikuti pemakaman beliau di kajen, tetapi keadaan tidak
memungkinkan. daerah demak, kudus, jepara, pati sendiri dan juga daerah rembang
di landa banjir sehingga memutus akses jalan. Saat ini saya ber ada di Semarang
barat daerah ngaliyan tepatnya kampus 2 IAIN Walisongo, tak berdaya menahan hal
yang ku inginkan, rasanya ingin ku terjang banjir yang menghalangi jalan tapi
ya inilah kenyataanya aku hanya bisa menulis di notebook.
Fikiranku melayang-layang
mengandai-andi jka seadainya aku punya holikopter, aku gak akan susah untuk
pegi ke manapun yang ku inginkan, seaindainya aku punya jurus menghilang,
seperti yang ada di cerita-cerita zaman dahulu, pastinya aku gak akan kesusahan
saat mau pergi ke mana-mana.






0 komentar:
Posting Komentar