Asap masih mengepul dari mulut ini,
seandainya malam tak mengajak rindu tuk datang padaku, mungkin aku sudah
terkapar, tidur dan terlelap dalam mimpi. Hanya aku dan semilir angin mencoba
memahami waktu. Sedang otak mencoba menjawab beberapa pertanyaan, mengapa, siapa, kapan?.
Pijar lampu di depan rumah, tepat
di tepi jalan yang menanjak dan sempit
begitu bermanfaat bagi setiap
orang yang melintas, terlebih malam hari. Jika melihat cahayanya, ada sesuatu
yang entah itu pantas di ingat atau bahkan wajib di ingat, nyatanya malam ini
aku mengingatnya.
Hanya dari samping, memandang sepertiga dari bibir itu,
membawaku menikmati sebuah cahaya yang terpancar dari sebuah senyum polos.
Bukan mimpi, meski menyerupainya, yang nyata hanya bisa memandang dan mengingatnya.
Belajar dari yang sudah berlalu, meski menikmati, namun
masih banyak duri di sepanjang jalan menanjak itu harus ku singkirkan jika tak
mau menikmati neraka.
Puja
Biar sedap langkah
puja
hinggap
Tak kan letih
Puja berharap
Siang bolong bermimpi
Malam merindu
Puja
Kau tetap hidup di
sepanjang nafas






0 komentar:
Posting Komentar