Rabu, 04 November 2015



Asap masih mengepul dari mulut ini, seandainya malam tak mengajak rindu tuk datang padaku, mungkin aku sudah terkapar, tidur dan terlelap dalam mimpi. Hanya aku dan semilir angin mencoba memahami waktu. Sedang otak mencoba menjawab beberapa pertanyaan,  mengapa, siapa, kapan?.
Pijar lampu di depan rumah, tepat di tepi jalan yang menanjak dan sempit  begitu  bermanfaat bagi setiap orang yang melintas, terlebih malam hari. Jika melihat cahayanya, ada sesuatu yang entah itu pantas di ingat atau bahkan wajib di ingat, nyatanya malam ini aku mengingatnya.
Hanya dari samping, memandang sepertiga dari bibir itu, membawaku menikmati sebuah cahaya yang terpancar dari sebuah senyum polos. Bukan mimpi, meski menyerupainya, yang nyata  hanya bisa memandang dan mengingatnya.
Belajar dari yang sudah berlalu, meski menikmati, namun masih banyak duri di sepanjang jalan menanjak itu harus ku singkirkan jika tak mau menikmati neraka.
Puja
Biar sedap langkah puja
hinggap
Tak kan letih
Puja berharap
Siang bolong bermimpi
Malam merindu
Puja
Kau tetap hidup di sepanjang nafas

0 komentar:

Posting Komentar