Rabu, 04 November 2015

pujaku



PUJAKU
Silih berganti ruang dan waktuku berdampak juga pada rasaku untuk mengingatmu, seperti tadi sore yang lupa aku memujamu dalam cahaya, padehal sore sebelumnya tak bisa terungkap betapa bahagia di dada saat mengingat, memuja dan menghayalmu. Oh cahayaku, aku rela malam ini untuk menuliskan kisah kesibukanku demi mengembalikan ingatanku padamu.
Meski dingin, meski kantong kering malam ini aku menyempatkan hadir dalam acara rapat keluarga mahasiswa Rembang di Semarang yang membahas mengenai malam keakraban mahasiswa baru. Di dalam rutinitas duniyawi yang mengeringkan jiwaku, ada hasrat tersendiri untuk kembali memenuhi kebutuhan sepiritual untuk menyegarkan jiwaku yang saya rasa masih suci.
Aku teringat tadi pagi, ketika motorku rusak, belum bisa ku bawa ke bengkel karna belum ada uang, walhasil aku tak mengikuti kuliyah jam pertama. Setelah aku menghubungi temanku yang berada di kelas ternyata aku tak terdaftar dalam kelas filsafat modern, oh sial rasa di dalam hati. Baru aku sadar, bahwa di pertemuan yang ke enam ini, tak sekalipun aku masuk.
Ceritanya gini, aku yang sering meremehkan sesuatu, contohnya yaitu perwalian. Meski saat registrasi berjibaku mencari uang untuk membayar, namun saat perwalian malah tak datang, walhasil mata kuliuyah yang sudah aku pilih belum di setujui oleh dosenku.
Tapi aku tak kecewa akan semua yang terjadi saat ini, aku bertindak bukan tanpa dasar, aku tak sepakat dengan system perwaliyan yang saya rasa mengurangi jatah libur semesteran. Saat rumah mahasiswa jauh, untuk ke Semarang perlu biyaya yang lumayan, hanya untuk perwalian setelah itu kembali pulang. Apa-apaan ini? Saya rasa. Buat apa kecanggihan tehnologi, yang semua system di onlinekan tapi perwalian masih saja ketemuan sama dosen wali yang belum bisa di temui  setiap saat. Ini kan merepotkan sekali, maka harus di hilangkan itu perwalian.
Kenapa perwalian harus di hilangkan? Karna satu, perwalian itu saya rasa tidak ada efeknya terhadap perbaikan kuliyah. Iya memang menjalin silaturahmi itu baik, namun jika bisa di lakukan di lain hari dan tanpa biya, bukankah itu akan lebih baik?. Ke dua, buat apa system di onlinekan kalau masih repot-repot bertemu wali mahasiswa hanya untuk menyuruh meng klik atau mengkonfirm mata kuliyah yang sudah kita pilih, ah,,,, lucu menurut saya. Kenapa saya berpendapat demikian? Karna saya merasa, untuk kes semarang harus merogoh saku lumayan memberatkan.
Kembali ke kenapa tadi pagi aku tak kuliyah, saya merasa ada sesuatu yang menggangu kejiwaanku yang itu membuatku tak punya daya juang.  Jadi teringat dengan pemikiranya Mark yaitu materialisem historis, namun aku tak mau membahas tentang itu karna kalau  membahas tentang itu hanya akan membuatku merasa tidak nyaman. Selanjutnya, karna efek ketidak stabilan kondisi jiwa ini, akibatnya uangpun terbelanjakan yang sebutulnya kebutuhan tersier. Ah sudahlah.
Aku mau mengingat cahayaku saja, aku teringat saat pertama aku memandang keluguanya yang tercermin dalam malui-maluanya. Saat itu saya melirik, namun hanya sekejap, diapun sama hanya melirik sekejap.
Cahayaku
Ini malamu
Aku sisakan nafas sebelum jatah tidur hari ini untuk mengingatmu
Menghayalmu
Mamandang bibir indahmu
Memandang anggun dalam lamunanku
Cahayaku
Kelak jika engkau sadar bahwa aku adalah hitam dahaga
Perlu kau siram oleh sinarmu
Dan engkau berkenan
Maka betapa tuhan itu sangat mulia
Namun jika sinarmu itu suda kau pancarkan pada seorang
Maka aku akan berhenti berharap
Karna aku masih percaya pada tuhanku yang sudah menyiapkan cahaya terbaik untukku
Cahayaku ingatlah aku dalam setiap detik nafas bahagiamu

Riang dan senyum, itu harapan dekatku untuk segera berkenalan dan canda tawa denganmu. Kelak jika kau sudah ku genggam maka tulisan ini akan aku sodorkan untuk kau baca agar kau tau betapa aku memujamu di setiap malamku.
Biarlah kesadaran financial Dan fisik memperlambat keberanianku untuk segera mendekatkan diri padamu, namun dalam setiap harapan doaku tak kan berhenti. Kau akan selalu dalam ingatan dan harapanku untuk segera aku genggam, karna apa yang aku impikan terdahulu keburu di ambil orang dan ahirnya aku harus menemukan cahaya lagi untuk mengisi kegelapan hati ini. Saat hati ini sudah menemukan cahayamu maka saya berharap pada tuhanku yang maha member apa yang aku mau untuk segera mendekatkan dia padaku


0 komentar:

Posting Komentar