PUJAKU
Silih berganti ruang dan waktuku
berdampak juga pada rasaku untuk mengingatmu, seperti tadi sore yang lupa aku
memujamu dalam cahaya, padehal sore sebelumnya tak bisa terungkap betapa
bahagia di dada saat mengingat, memuja dan menghayalmu. Oh cahayaku, aku rela
malam ini untuk menuliskan kisah kesibukanku demi mengembalikan ingatanku
padamu.
Meski dingin, meski kantong kering
malam ini aku menyempatkan hadir dalam acara rapat keluarga mahasiswa Rembang
di Semarang yang membahas mengenai malam keakraban mahasiswa baru. Di dalam
rutinitas duniyawi yang mengeringkan jiwaku, ada hasrat tersendiri untuk
kembali memenuhi kebutuhan sepiritual untuk menyegarkan jiwaku yang saya rasa
masih suci.
Aku teringat tadi pagi, ketika
motorku rusak, belum bisa ku bawa ke bengkel karna belum ada uang, walhasil aku
tak mengikuti kuliyah jam pertama. Setelah aku menghubungi temanku yang berada
di kelas ternyata aku tak terdaftar dalam kelas filsafat modern, oh sial rasa
di dalam hati. Baru aku sadar, bahwa di pertemuan yang ke enam ini, tak
sekalipun aku masuk.
Ceritanya gini, aku yang sering
meremehkan sesuatu, contohnya yaitu perwalian. Meski saat registrasi berjibaku
mencari uang untuk membayar, namun saat perwalian malah tak datang, walhasil
mata kuliuyah yang sudah aku pilih belum di setujui oleh dosenku.
Tapi aku tak kecewa akan semua yang
terjadi saat ini, aku bertindak bukan tanpa dasar, aku tak sepakat dengan
system perwaliyan yang saya rasa mengurangi jatah libur semesteran. Saat rumah
mahasiswa jauh, untuk ke Semarang perlu biyaya yang lumayan, hanya untuk
perwalian setelah itu kembali pulang. Apa-apaan ini? Saya rasa. Buat apa
kecanggihan tehnologi, yang semua system di onlinekan tapi perwalian masih saja
ketemuan sama dosen wali yang belum bisa di temui setiap saat. Ini kan merepotkan sekali, maka
harus di hilangkan itu perwalian.
Kenapa perwalian harus di
hilangkan? Karna satu, perwalian itu saya rasa tidak ada efeknya terhadap
perbaikan kuliyah. Iya memang menjalin silaturahmi itu baik, namun jika bisa di
lakukan di lain hari dan tanpa biya, bukankah itu akan lebih baik?. Ke dua,
buat apa system di onlinekan kalau masih repot-repot bertemu wali mahasiswa
hanya untuk menyuruh meng klik atau mengkonfirm mata kuliyah yang sudah kita
pilih, ah,,,, lucu menurut saya. Kenapa saya berpendapat demikian? Karna saya
merasa, untuk kes semarang harus merogoh saku lumayan memberatkan.
Kembali ke kenapa tadi pagi aku tak
kuliyah, saya merasa ada sesuatu yang menggangu kejiwaanku yang itu membuatku
tak punya daya juang. Jadi teringat
dengan pemikiranya Mark yaitu materialisem historis, namun aku tak mau membahas
tentang itu karna kalau membahas tentang
itu hanya akan membuatku merasa tidak nyaman. Selanjutnya, karna efek ketidak
stabilan kondisi jiwa ini, akibatnya uangpun terbelanjakan yang sebutulnya
kebutuhan tersier. Ah sudahlah.
Aku mau mengingat cahayaku saja,
aku teringat saat pertama aku memandang keluguanya yang tercermin dalam
malui-maluanya. Saat itu saya melirik, namun hanya sekejap, diapun sama hanya
melirik sekejap.
Cahayaku
Ini
malamu
Aku
sisakan nafas sebelum jatah tidur hari ini untuk mengingatmu
Menghayalmu
Mamandang
bibir indahmu
Memandang
anggun dalam lamunanku
Cahayaku
Kelak
jika engkau sadar bahwa aku adalah hitam dahaga
Perlu
kau siram oleh sinarmu
Dan
engkau berkenan
Maka
betapa tuhan itu sangat mulia
Namun
jika sinarmu itu suda kau pancarkan pada seorang
Maka
aku akan berhenti berharap
Karna
aku masih percaya pada tuhanku yang sudah menyiapkan cahaya terbaik untukku
Cahayaku
ingatlah aku dalam setiap detik nafas bahagiamu
Riang dan senyum, itu harapan
dekatku untuk segera berkenalan dan canda tawa denganmu. Kelak jika kau sudah
ku genggam maka tulisan ini akan aku sodorkan untuk kau baca agar kau tau
betapa aku memujamu di setiap malamku.
Biarlah kesadaran financial Dan
fisik memperlambat keberanianku untuk segera mendekatkan diri padamu, namun
dalam setiap harapan doaku tak kan berhenti. Kau akan selalu dalam ingatan dan
harapanku untuk segera aku genggam, karna apa yang aku impikan terdahulu keburu
di ambil orang dan ahirnya aku harus menemukan cahaya lagi untuk mengisi
kegelapan hati ini. Saat hati ini sudah menemukan cahayamu maka saya berharap
pada tuhanku yang maha member apa yang aku mau untuk segera mendekatkan dia
padaku







0 komentar:
Posting Komentar