Tak kan letih
Satu ungkapan yang ingin aku
katakana adalah “aku tak akan letih”, beberapa lubang yang sama telah aku
masuki dan kini aku tak mau lagi. Merasa bahwa tidak pernah menyelesaikan
sesuatu itu wajar karna memang nyatanya aku tak bisa menyelesaiikan sesuatu
dengan sempurna dan tepat waktu. Sejak lulus sekolah Madrasah Aliyah, kondisi
hidupku mulai goyah. Sebenarnya sempet ada semangat waktu aku melamar kerja di
salah satu perusahaan retail terbesar di negri ini.
Aku ingat betul waktu itu, karna
aku tergolong dari keluarga kurang mampu maka cita-cita pertamakali ketika
lulus sekolah adalah kerja dengan tujuan bisa mencukupi diri sendiri, syukur
bisa membantu keluarga. Namun tujuan tersebut tak ada yang terwujud, pertama
kali kerja aku merengek pada orang tua terkhusus pada ibuku. Aku minta sejumlah
uang untuk biaya hidup sekaligus pendaftaran dan transportasi di kota semarang.
Dengan susah payah ibuku mencarikan
uang untukku, ketika itu semangatku menggebu, berharap bisa sukses di perantauan.
Sebelum kerja, saat di perjalanan menuju semarang hatiku sangat bahagia, bisa
melihat pemandangan kota yang sebelumnya tidak terlalu faham. Sesampainya di sekitar kawasan industry
tempatku training, dengan cuaca super panas, aku bersama temenku mencari
kos-kosan untuk di pake menginap sementara. Wal hasil aku dapat penginapan di
rumah belakang gedung Partai Persatuan
Pembangunan.
Ketika sore hari, di dalam gerbang
menuju rumah, saya sempat berfoto dan berkata dalam hati bahwa suatu saat nanti
aku akan kesini lagi, tak ada satu tahun aku akan berada di area ini dan akan
mengingat kembali saat ini. Sehabis dari kantor training center, aku selalu
berkumpul dengan teman, bercanda tawa, mengobrol kesana-kemari, tak ketinggalan
pastinya ngebahas cewek.
Ketika membahas cewek, biyasanya
temen-temen terlalu bersemangat, apalagi saat itu di rumah itu kebetulan juga
ada anak cewek yang ngekos. Kelihatanya dia sama-sama lagi training juga di
perusahaan retail terbesar di negri ini. Jadi saking semangatnya obrolan ada
juga yang sampai di aplikasikan ke kenalan. Biayasa,,,, masa muda, bahkan salah
satu temen rela menghabiskan uangnya demi bisa mengajak sang gebetan belanja
sambil jalan. Namun tak usah aku sebutkan disini.
Setelah seminggu, ternyata uang
yang di kasih ibuku menipis dan hampir habis. Sempat aku pulang ke rumah,
meminta uang lagi kepada orang tua. Meski agak malu, lantaran merasa kerja
masak meminta uang, seperti mondok saja. Tapi itu adalah satu-satunya jalan
untukku bertahan hidup di kota, aku mulai berfikir untuk ke depan. Karna saat
itu aku sering browsing bacaan sosialis, yang mengutuk praktek memperlakukan
manusia sebagai bagian dari modal usaha. Maka semakin aku berontak dan tidak
kerasan dalam kondisi kerja yang terlalu banyak aturan.
Walhasil, ketidak kierasananku
tersebut berujung pada kepulangan sia-sia. Temanku satu persatu juga pulang
kampong. Aku yang mencoba bertahan, ternya tak mampu juga melewati seleksi
alam. Hanya tiga minggu aku bertahan lalu pulang dengan gelar pecundang. Rasa
malu, merasa bersalah pada orang tua, rasa sesal dan semua rasa yang entah
gimana tuk merasakanya lagi saat itu terlalu menyiksaku.
Karna bisa di bilang setres, aku
memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Aku ptuskan untuk sejenak di pondok
pesantren yang kebetulan saat itu bulan puasa. Aku tunggu orang tuaku reda dari
kemarahan dan kekecewaan. Ternyata setrategiku berhasil, aku pulang ke rumah
saat mendekati lebaran. Pas momen lebaran aku meminta maaf kepada ke dua orang
tuaku smbil bercucuran air mata. Tak bisa di jelaskan dan di ungkapkan rasa
itu, saat aku mencium tangan kedua orang tuaku dengan hikmat penuh harapan juga
penyesalan.






0 komentar:
Posting Komentar