Rabu, 04 November 2015

tak kan letih



Tak kan letih

Satu ungkapan yang ingin aku katakana adalah “aku tak akan letih”, beberapa lubang yang sama telah aku masuki dan kini aku tak mau lagi. Merasa bahwa tidak pernah menyelesaikan sesuatu itu wajar karna memang nyatanya aku tak bisa menyelesaiikan sesuatu dengan sempurna dan tepat waktu. Sejak lulus sekolah Madrasah Aliyah, kondisi hidupku mulai goyah. Sebenarnya sempet ada semangat waktu aku melamar kerja di salah satu perusahaan retail terbesar di negri ini.
Aku ingat betul waktu itu, karna aku tergolong dari keluarga kurang mampu maka cita-cita pertamakali ketika lulus sekolah adalah kerja dengan tujuan bisa mencukupi diri sendiri, syukur bisa membantu keluarga. Namun tujuan tersebut tak ada yang terwujud, pertama kali kerja aku merengek pada orang tua terkhusus pada ibuku. Aku minta sejumlah uang untuk biaya hidup sekaligus pendaftaran dan transportasi di kota semarang.
Dengan susah payah ibuku mencarikan uang untukku, ketika itu semangatku menggebu, berharap bisa sukses di perantauan. Sebelum kerja, saat di perjalanan menuju semarang hatiku sangat bahagia, bisa melihat pemandangan kota yang sebelumnya tidak terlalu faham.  Sesampainya di sekitar kawasan industry tempatku training, dengan cuaca super panas, aku bersama temenku mencari kos-kosan untuk di pake menginap sementara. Wal hasil aku dapat penginapan di rumah belakang gedung  Partai Persatuan Pembangunan.
Ketika sore hari, di dalam gerbang menuju rumah, saya sempat berfoto dan berkata dalam hati bahwa suatu saat nanti aku akan kesini lagi, tak ada satu tahun aku akan berada di area ini dan akan mengingat kembali saat ini. Sehabis dari kantor training center, aku selalu berkumpul dengan teman, bercanda tawa, mengobrol kesana-kemari, tak ketinggalan pastinya ngebahas cewek.
Ketika membahas cewek, biyasanya temen-temen terlalu bersemangat, apalagi saat itu di rumah itu kebetulan juga ada anak cewek yang ngekos. Kelihatanya dia sama-sama lagi training juga di perusahaan retail terbesar di negri ini. Jadi saking semangatnya obrolan ada juga yang sampai di aplikasikan ke kenalan. Biayasa,,,, masa muda, bahkan salah satu temen rela menghabiskan uangnya demi bisa mengajak sang gebetan belanja sambil jalan. Namun tak usah aku sebutkan disini.
Setelah seminggu, ternyata uang yang di kasih ibuku menipis dan hampir habis. Sempat aku pulang ke rumah, meminta uang lagi kepada orang tua. Meski agak malu, lantaran merasa kerja masak meminta uang, seperti mondok saja. Tapi itu adalah satu-satunya jalan untukku bertahan hidup di kota, aku mulai berfikir untuk ke depan. Karna saat itu aku sering browsing bacaan sosialis, yang mengutuk praktek memperlakukan manusia sebagai bagian dari modal usaha. Maka semakin aku berontak dan tidak kerasan dalam kondisi kerja yang terlalu banyak aturan.
Walhasil, ketidak kierasananku tersebut berujung pada kepulangan sia-sia. Temanku satu persatu juga pulang kampong. Aku yang mencoba bertahan, ternya tak mampu juga melewati seleksi alam. Hanya tiga minggu aku bertahan lalu pulang dengan gelar pecundang. Rasa malu, merasa bersalah pada orang tua, rasa sesal dan semua rasa yang entah gimana tuk merasakanya lagi saat itu terlalu menyiksaku.
Karna bisa di bilang setres, aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Aku ptuskan untuk sejenak di pondok pesantren yang kebetulan saat itu bulan puasa. Aku tunggu orang tuaku reda dari kemarahan dan kekecewaan. Ternyata setrategiku berhasil, aku pulang ke rumah saat mendekati lebaran. Pas momen lebaran aku meminta maaf kepada ke dua orang tuaku smbil bercucuran air mata. Tak bisa di jelaskan dan di ungkapkan rasa itu, saat aku mencium tangan kedua orang tuaku dengan hikmat penuh harapan juga penyesalan.

0 komentar:

Posting Komentar