Rabu, 04 November 2015

tahun baru 2014



Baru Tahun

Hari ini bertepatan dengan tahun baru islam. Pagi, ada yang mengetok-ngetok pintu kamar kosku. Setelah beberapa kali baru aku buka, jam segitu aku masih molor jadi terlambat mendengar dan merespon ketukan pintu. Pintu saya buka dengan mata sedikit masih tertutup, nyawa belum sepenuhnya kembali.
 “eh, onopo mam?” tanyaku dengan lirih, “ayo im, di ewangi ngusungi barang neng ngisor”, “ok ok mam, aku tak mbalekno nyowo disik” jawabku sambil kembali ke kasur merebahkan badan lagi, “ya, tak nteni lho,,,, mobile wes nunggu”.
Aku kembali tidur beberapa menit, setelah mendengar anak-anak  kosku ramai bekerja bakti membersihkan area sekitar ko,s baru aku terbangun dan menyapanya. Aku ingat ajakan imam untuk membantu memindahkan barang, segera aku ke lantai bawah untuk membantu. Eh, ternyata barangnya sudah ada di mobil semua. Aku berhenti di tangga dekat parker dan duduk melihat imam yang mau kembali meneruskan ke kem baru PMII rayon Ushuluddin.
“lho, wes bar mam? Tanyaku. “wes, ran dang gage kuwe kog”, “nyawaku during balek mau”, “ono goncekkan moro kem ra?”, “melu mobil”, “ah, y owes nek ra ono”. Imam, pak rayon, pak sekertaris rayon, pak wakil coordinator department kajian dan wacana bersamaan mengiringi mobil menuju kem baru.
Aku sempat berfikir, ini kenapa kog pada rajin amat. Pagi-pagi sudah pada bersih-bersih, kompak lagi. Baru pertama kali aku melihat bersih bersama anak kos atas dan bawah. Baru aku ingat, oh ternyata ini tahun baru islam, mungkin karna momen tahun baru inilah anak-anak ingin membersihkan kos, membersihkan diri, membersihkan kenangan buruk tahun lalu dan menatap masa depan dengan kebersihan dan semangat suci suci, hehehe kaya idul fitri aja. Yaaaaa, itu itu hanya pikirku saja belum tentu kebenaranya.
Aku ikut nimbrung anak atas yang membersihkan depan kamar kos, tepatnya di selokan pinggir jalan. Ternyata aku sudah tidak kebagian jatah memegang apapun hanya melihat mas najib gendut menyapu dengan penuh semangat, mas lutfi yang sibuk mencari tanaman untuk di budidayakan tapi ternyata gak berhasil. Pak ketum KAMARESA yang lagi sibuk menyerok sampah dan membawa ke tempat pembuangan. Aku jadi penonton,  ah,,,,,, muncul fikiran, mending membersihkan kamarku sendiri yang super duper kotornya. Segera aku menuju ke kamar melihat kekotoran yang sungguh luar biyasa.
Kamar macam apa ini? Pikirku. Sawang ada dimana-mana, kertas Koran berserakan, piring, sendok, mejikom, tivi, kertas makalah, botol minuman besar dan kecil, sound system kecil, buku bacaan tebal maupun tipis, baju kotor, bantal kotor, putung rokok berserakan, gas yang biyasanya di pakai muncak, toples, cat warna dan kuasku, kecap, caos, kabel, ces netbook, ces hape, helem, kardus, tenda,  handuk, bendera, tiker, banner, dan semua barang yang tampak semrawut di dalam ruangan empat kali dua setengah meter ini. Sungguh luar biyasa kekotoranya.
Sempat aku bingung mau mulai dari mana membersihkan model kamar seperti ini. Aku putuskan mengumpulkan banyak berbagai Koran kompas, suara merdeka, wawasan dan Koran lokaln Semarang yang lain berserakan segera aku ambil dan kumplkan untuk segera buang ke tempat sampah. Setelah Koran selesai baju-baju menumpuk yang tak jelas kepunyaan siapa aku jadikan satu ku taruh di luar pintu kamar. Selanjutnya ku sapu semua hingga masih tampak tidak bersih. Tapi aku mulai lelah, ya sudahlah saya rasa.

0 komentar:

Posting Komentar