Rabu, 04 November 2015

DI KELAS




Mata Kuliyah Akhlak Tasawuf

12 12 2013

Tampak dari timur matahari sedang muncul, bergegas aku bangun lalu mandi baru menuju ke kampus untuk mempresentasikan makalah saya. Tepatnya pukul tujuh lebih duapuluh menit aku mulai mempresentasikan makalahku yang ber judul “Ridho” .
  Saat presentasi berjalan sebetulnya belum ada dosen, karna pak dosen lagi ngajar di kelas perbandingan agama, jadi saya sediki ada kendala untuk menjawab petanyaan yang muncul dari teman-teman. Sudah menjadi tradisi jikalau pemakalah tidak bisa menjawab pertanyaan dari audiens,  maka langsung di lempar pada dosen. Sebenarnya saya bisa menjawab pertanyaan, akan tetapai dari teman-teman belum bisa percaya penuh jikalau yang menjawab  saya, jadi menunggu pak dosen datang untuk menjawab pertanyaan yang sepele, menurut saya.
 Pertanyaanya yaitu, apa perbedaan dari ridho, ikhlas, dan qonaah? itu sudah saya jawab.  “semua itu sama” jawabanku, karna saya tidak menjawab dengan tampang serius,  dari teman-teman menganggap itu hanya guyonan. 
Setelah bapak dosen datang, saya tanyakan, pertanyaan tadi.  Ternyata jawabanya sama seperti yang aku ungkapkan. Bukan kah itu menyebalkan?.
Karna  saat itu adalah pertemuan terahir mata kuliyah akhlaq tasawuf, bapak dosen mau memberi ijazah istikhoroh al qur’an. Ijazah istikoroh al qur’an ternyata simpel sekali dan mudah banget dan bisa di lakukan semua orang.
 Gini lhoooo caranya 
Apa yang mau di istikhorohi ?
Pikirkan terlebih dahulu
Pertama, badan harus suci dari hadas kecil maupun besar
 kedua, silahkan ambil al qur’an ( yang tidak bisa memaknai atau mengartikan al qur’an ke dalam bahasa indonesia, silahkan pakai al qur’an yang terjemahan)  seperti saya yang gak bisa bahasa arab, apalagi bahasa al qur’an.
Ke tiga, silahkan beri hadiah surah al fatihah untuk nabi Muhammad saw, Malaikat jibril (sebagai penyampai wahyu) dan ter ahir yaitu bos nya wali di seluruh dunia, dialah syekh Abdul Qodir al Jaelani.
Di lanjut, s buka al qur’an.  Dengan cara tidak memilih-milih, lalu tunjuk salah satu  ayat yang ada dalam halaman yang kalian buka tersebut, tujuk salah satu terus baca ayatnya dan artinya.
“Itulah jawabn dari tuhan untuk anda” kata pak dosen. mudah kan?.
Kalau ada masalah yang mau di istikhorohi, Silahkan di coba sendiri.
Cerita selanja, Bapak dosen telah memberi ijazah tersebut dan kini di suruhlah mahasiswa untuk mencoba mempraktek langsung.
“ siyapa yang punya masalah? Silahkan maju ke depan dan praktekkan langsung “ kata pak dosen.
Aku yang lagi menghadapi buanyak permasalahan dalam hidup, membaranikan diri untuk maju ke depan.  tertawalah teman-teman.
 saat aku di tanya pak dosen “ apa permasalahan mu? “
 aku jawab dengan sedikit menyembunyikan segala problema hidupku “ permasalahan ku sering tidur pak”
 “ya, silahkan maju” suruh pak dosen.
Aku maju dengan teman ku cewek yang bernama indah, dia mempunyai problem merasa bahwa dalam dirinya ada penyakit, tapi tak tau apa jenis penyakitknya?
Aku duduk bersandingan dengan teman ku tersebut.  saya bertanya ”aku duluan atau kamu ndah?” dia menjawab “ kamu saja im”. Ya sudahlah aku duluan. Aku mulai membaca ila hadroti nabi, malaikat dan waliyullah. setelahnya aku buka perlahan al qur’an yang aku bawa aku menunjuk salah satu ayat dengan mata tidak melihat, lalu aku baca perlahan ayatnya dalam bahasa al qur’an.
 Pak dosen menyuruhku membaca artinya ke dalam bahasa indonesia “ silahkan baca artinya” kata pak dosen. Aku baca artinya dengan nada sedikit keras dan jelas, ini bunyinya “  dia musa ber do’a “ ya tuhanku sesungguhnya aku telah men dzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku” maka dia (allah) mengampuninya. Sungguh, allah maha pengampun lagi maha penyayang”.
Waaaooww, betapa terkejutnya aku saat membaca artinya tersebut.  Aku merasa telah men dzolimi diriku sendiri. Hebat lagi respon dari temen-temen yang tertawa terbahak-bahak sambil mengejeku.
Lebih sepesial lagi, pak dosen yang terkenal gak pernah banyak tawa tersebut. Waoooow, sungguh luar biyasa, pak dosen tertawa lepas hingga wajahnya memerah, itu membuatku ikutan tertawa dan menahan rasa malu mestinya.
Melihat pak dosen yang tertawa lepas sekali, teman-teman tambah tertawa lebih lepas hingga meng guncang kelas. Suasana di kelas saat itu memang penuh dengan tawa yang gak seperti biyasanya, kalo boleh mengatakan sungguh sepesial banget.


Setelah itu,  jam telah habis di telan keasyikan, aku dan teman-teman  melanjutkan agenda berikutnya yaitu futsal di lapangan futsal golden, di daerah semarang barat, tepatnya di sekitar perempatan rumah makan ayam goreng bu suharti ke utara.


0 komentar:

Posting Komentar